Tampilkan postingan dengan label Abortion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abortion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2009

Pengakuan-pengakuan Dokter Aborsi

” Waktu pertama kali melakukan pengguguran, saya merasa menjadi seorang pembunuh. Tetapi saya melakukannya lagi, lagi dan lagi, dan 20 tahun kemudian saya menjadi kebal terhadap suara hati nurani. Yah, saya perlu uang. Karena itu adalah pekerjaan yang mudah maka saya terpaksa melihat para wanita sebagai hewan dan bayi-bayi itu sebagai kumpulan daging belaka." (dokter NN)
"Mula-mula kami melakukan pengguguran pada janin-janin kecil…sehingga detakan-detakan jantung dan geraknya tak begitu nyata. Saya pikir janin-janin berumur 15-16 minggu itu tentu belum bisa merasa apa-apa. Tanpa sadar, kami mulai melakukan pengguguran terhadap janin-janin besar. Tiba-tiba waktu kami menyuntikkan cairan garam, kami melihat ada gerakan-gerakan dalam rahim. Pasti ini adalah janin yang menderita akibat menelan cairan garam, ia menendang-nendang dengan panik dalam keadaan sekarat. Kami menghibur diri dengan mengatakan bahwa itu hanya disebabkan oleh kontraksi otot-otot rahim saja. Tapi, jujurnya hal ini menekan batin kami, sebab sebagai dokter kami mengerti betul bahwa bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kami telah melakukan pembunuhan." (Dr. John Szenens)
""Saya mengalami banyak kesukaran dalam perasaan saya karena pengguguran di masa lalu. Suatu hari saya memasuki ruangan dimana mereka menyimpan janin-janin itu sebelum dibakar. Janin-janin itu dikumpulkan dalam waah-wadah, seperti ayam potong yang dijual di pasar. Saya menjenguk ke dalam wadah di depan saya. Di dalamnya ada bayi kecil telanjang, berlumuran darah. Ia berwarna merah keungu-unguan karena memar dan wajahnya tegang, menderita sekali sebab dipaksa untuk mati terlalu cepat." (Susan Lindstrom)
"Saya tidak suka dengan ide aborsi. Menurut saya, ketika sperma membuahi sel telur ia sudah menjadi seorang manusia. Mungkin belum terlihat bentuk manusianya tapi ia sudah hidup dan sedang memulai suatu proses pematangan dari bagian-bagian yang sebenarnya sudah ada sejak pembuahan. Terkadang saya berpikir daripada diaborsi, lebih baik ia dilahirkan dan diadopsi oleh orang lain. Betapa mengherankan bila dipikir, disatu sisi banyak pasangan yang sudah menikah begitu rindu ingin punya anak dan bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan seorang anak, namun disisi lain ada orang yang membuang, seakan-akan janin itu hanyalah onggokan daging belaka. Saya mengerti, banyak faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan dan membantu melakukan aborsi. Namun apa pun alasannya, di mata Tuhan itu salah." (Dr. Kartini, Jakarta)
Sumber: ABORSI.NET(21 Desember 2003)

Tindakan, Teknik, dan Resiko Aborsi

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia “tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang”.
Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.

Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit. Mereka tidak sadar karena di bawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi, bagi bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi.
TINDAKAN ABORSI
Ada 2 macam tindakan aborsi, yaitu:
1. Aborsi dilakukan sendiri
2. Aborsi dilakukan orang lain

Aborsi dilakukan sendiri Aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara memakan obat-obatan yang membahayakan janin, atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dengan sengaja ingin menggugurkan janin.



Aborsi dilakukan orang lain Orang lain di sini bisa seorang dokter, bidan atau dukun beranak. Cara-cara yang digunakan juga beragam.



Aborsi yang dilakukan seorang dokter atau bidan pada umumnya dilakukan dalam 5 tahapan, yaitu:
1. Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukkan di dalam kandungan
2. Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan
3. Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan
4. Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan lengkap dan tidak tersisa
5. Potongan-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah / sungai, dikubur di tanah kosong, atau dibakar di tungku
Teknik Aborsi Yang disesuaikan dengan Usia Kandungan
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan) Pada kehamilan muda, dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.


Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan) Pada tahap ini, dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Dalam klinik aborsi, bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini. Ada potongan tangan, potongan kaki, potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang mungil. Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan cara yang paling mengerikan.
Pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan) Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya – setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari – bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi pembunuhan secara amat keji. Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini.
Pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan), pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja. Biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas – hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini – bahwa pembunuhan keji telah terjadi. Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu. Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.




RESIKO ABORSI

1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

So, please think twice before you gonna do it...

Penyebab Keguguran

Abortus atau keguguran adalah kelahiran yang terhenti pada kehamilan di bawah 20 minggu atau berat badan janin di bawah 500 gram. Kelahiran yang terjadi di atas 20 minggu, bukan lagi abortus, melainkan partus.
Menurut dr. Hj. Hasnah Siregar, Sp OG, abortus biasanya diawali oleh adanya perdarahan pada selaput lendir rahim atau desidua basalis, dan menyebabkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya. Akibatnya, calon janin terlepas sebagian atau seluruhnya. Kondisi demikian membuat calon janin menjadi benda asing bagi rahim, sehingga rahim berupaya mengeluarkan isinya dengan cara kontraksi. “Inilah yang disebut abortus yang spontan. Dengan kata lain, terjadinya abortus merupakan reaksi tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang berupa calon janin tadi,” ujar dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RSIA Harapan Kita dan RSIA Hermina Jakarta ini.
Penyebab abortus sendiri cukup beragam dan dikelompokkan dalam empat aspek, sbb:
  1. Aspek kelainan dari calon janin tadi. “Ini adalah abortus akibat yang terjadi karena kelainan pada kromosom, alias bibitnya sudah tidak baik,” ujarnya. Abortus juga dapat terjadi akibat lingkungan rahim yang tidak baik, misalnya kondisi endometrium yang tidak sempurna. “Bisa saja akibat pengaruh dari luar tubuh ibunya. Misalnya, terkena virus, radiasi, konsumsi obat-obatan, ataupun pengaruh psikis, seperti beban pekerjaan atau hubungan dengan suami.”
  2. Abortus yang terjadi akibat kelainan pada plasenta sendiri. Misalnya, akibat infeksi pada vili-vili chorealis yang menyebabkan plasenta yang tidak bagus, dan menyebabkan pengiriman makanan ke calon janin melalui plasenta terganggu. “Ini menyebabkan gangguan pertumbuhan pada calon janin, dan selanjutnya janinnya mati,” ujar Hasnah.
  3. Penyakit yang berasal dari si ibu sendiri. Misalnya, calon ibu mendapat gangguan kesehatan pada saat kehamilan, seperti akibat infeksi dan mendadak panas tinggi, radang paru (pnemonia), sakit ginjal, terserang malaria, terinfeksi bakteri atau virus, dan sebagainya. “Semuanya ini bisa menyebabkan abortus,” ujar Hasnah. Selain itu, abortus juga bisa terjadi pada ibu yang mengalami anemia (kekurangan haemoglobin atau kekurangan butir darah merah) berat, mengalami keracunan, terpaksa menjalani operasi lain pada saat hamil, atau adanya infeksi pada rongga perut. “Penyakit menahun, seperti toksoplasmosis, juga bisa menyebabkan abortus.”
  4. Kelainan pada alat kelamin dalam, menurut Hasnah, merupakan aspek keempat. Misalnya kelainan letak rahim (retroversi uteri atau letak rahim turun), adanya mioma atau tumor di dalam rongga rahim. “Bisa pula karena mulut rahim sendiri yang tidak bagus (incompeten servik atau servik yang tidak baik) karena jahitan pada persalinan sebelumnya yang tidak bagus. Tak jarang Incompeten servik merupakan bawaan.
Jadi, penyebab terjadinya keguguran memang cukup banyak. “Oleh karena itu, dokter harus teliti mencari penyebabnya lebih dulu. Banyaknya penyebab tadi juga membuat kasus keguguran selalu ada, terutama di daerah yang tidak terjangkau dokter kebidanan,” ujar Hasnah sambil menambahkan, dengan penanganan dokter atau bidan yang baik, maka kematian ibu akibat keguguran dapat dihindari.
JARINGAN DIPERIKSA
Tak jarang, seorang wanita yang baru saja mengalami abortus, beberapa waktu kemudian kembali mengalami abortus. Nah, untuk mencegah terjadinya abortus, khususnya pada pasangan muda yang baru menikah, sebaiknya mereka melakukan pemeriksaan pranikah. Sesuai namanya, pada pemeriksaan pranikah, selain pemeriksaan kesehatan secara umum juga dilakukan pemeriksaan khusus, seperti pemeriksaan kromosom, sperma pria, dan sebagainya. “Pemeriksaan seperti ini sudah lazim dilakukan di berbagai negara maju. Tujuannya untuk menghindari adanya kelainan kromosom, penyakit keturunan, atau hal lain yang menghambat kebahagiaan kedua pasangan. Ini perlunya pemeriksaan pranikah” ujar Hasnah.
Sementara bagi wanita yang baru saja mengalami keguguran, upaya pencegahan terjadinya abortus ulangan diawali dengan membersihkan sisa calon janin dengan cara kuretase oleh dokter. “Jika tidak dibersihkan dapat menyebabkan gangguan, misalnya menyebabkan terjadinya kanker,” tambahnya. Sementara jaringan yang dikeluarkan dari dalam rahim tidak dibuang begitu saja, melainkan diperiksa di laboratorium untuk dianalisa secara anatomi dan patologi, apakah benar jaringan yang dikeluarkan itu calon janin atau bukan. Pemeriksaan laboratorium, selain untuk mendapat informasi tentang penyebab abortus, juga untuk menentukan langkah berikutnya terhadap pasien. “Sayangnya, sering terjadi, khususnya di daerah pelosok, jaringan tadi dibuang begitu saja atau tidak dilengkapi oleh data anatomi-patologi,” ujar Hasnah menyayangkan.
Ada dua kemungkinan wujud jaringan yang keluar saat abortus, yaitu berupa penyakit, misalnya hyperplasia endometrium, atau pertumbuhan sel endometrium yang tidak terkendali. “Ini berbahaya, karena dalam jangka waktu lama dapat berubah menjadi kanker,” ujar Hasnah. Jika dari hasil pemeriksaan ternyata benar jaringan tadi adalah calon janin, atau hasil keguguran, maka dokter wajib mencari tahu kenapa sampai terjadi keguguran. “Pasalnya, mengacu pada banyaknya materi penyebab keguguran, maka penyebab keguguran pada masing-masing orang akan selalu berbeda. Ini harus dicari tahu untuk menentukan proses pengobatan,” ungkapnya.
Sumber: Tumpak Sidabutar/Dok. NOVA